Latest Entries »

Bismillah..

Nice Quote:

“Knowledge is like rain and the soil is behavior. If the soil is corrupted it doesn’t matter how fresh the rain is.”
(Imam Suheib)

“Many people when they gain knowledge unconsciously become more judgemental. They feel like they’re right and anything goes against their limited knowledge is wrong. That is not how a student of knowledge should be like.”
(Nouman Ali Khan)

“The more knowledge we have, the more humble we should become. Never ever should we try to learn deen in order to argue with someone. If no one knows your intentions, remember that Allah swt does.”
(Nouman Ali Khan)

“If practising Islam make you aggresive, rude and ill tempered, know for a fact that you are not practising Islam.”
(Abu Hafsa Abdul Malik)

“If knowledge is not attached to taqwa, knowledge becomes means of arrogance. Dakwah is not about crushing your opponent in argument, it is an invitation.”
(Nouman Ali Khan)

Advertisements

Bismillah..

“Jadi, akh, berda’wah itu mirip dengan pekerjaan seorang petani. Biji yang ditanam tidak cukup hanya dibenamkan ke tanah lalu ditinggalkan. Kemudian kita berharap akan kembali pada suatu hari untuk memetik hasilnya… Mustahil itu ! Mustahil !”

“Tanaman itu harus disiram setiap hari, dijaga, dipelihara, dipagari, bahkan kalau tunas-tunasnya mulai tumbuh, kita harus menungguinya, sebab burung-burung juga berminat pada pucuk-pucuk segar itu.”

“Jadi para mad`u (pengikut da’wah) kita harus di-ri’ayah (dirawat), ditumbuhkan, diarahkan, dinasehati sampai dia benar-benar matang. Dijaga alur pembinaannya, ditanamkan motivasi-motivasi, dibangun keikhlasan mereka, didengarkan pendapat-pendapatnya, bahkan kita perlu sesekali bepergian dengannya. Agar kita memahami betul watak kader da’wah kita sebenarnya.”

Tulisan diatas dikutip dalam majalah Saksi edisi Juli 2005.

*KEREN…!!!!!


​Resume pribadi materi Matrikulasi IIP batch#3

Sesi #1 [Overview Ibu Profesional] Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

How to be Profesional Mother
Sebelum menjadi ibu yang profesional, pahami dulu tentang anak kita. Apa yang sudah dimiliki oleh anak kita?

1. Intellectual Curiosity, yaitu rasa ingin tahu yanb luar biasa besar

2. Creative Imagination, yaitu daya imajinasi kreatif yang tinggi

3. Art of discovery, yaitu seni untuk menemukan

4. Noble attitude yaitu Akhlak yang mulia. 

Bersama dengan kita sebagai orangtua, seharusnya keempat potensi anak tersebut menjadi lebih dahsyat. Kalau terjadi sebaliknya, maka pertanyaan besarnya adalah: “Ada apa dengan kita?”

Selain kemampuan apa yang telah dimiliki anak, ada juga empat fitrah anak. 

• Fitrah pertama: Anak adalah Homo Ludens atau mahluk yang senang dengan permainan dan bermain. Kedua aktivitas ini jangan sampai dijauhkan dari anak karena dapat membuat anak berkembang secara optimal. Bermainlah dengan anak, dan tunjukkan kegembiraan anda sebagai orangtua saat bersama mereka. 

• Fitrah kedua: Rentang konsentrasi anak adalah 1x menit umurnya. Oleh karena itu jangan paksa anak untuk bisa duduk manis 🙂 Rentang konsentrasi ini bisa naik seiring dengan stimulus yang diberikan pada anak. Misalnya jika menginginkan anak yang usianya baru 5 tahun untuk tenang selama 30 menit, maka anda harus menyiapkan 6 stimulus untuk memperpanjang rentang konsentrasinya. 

• Fitrah ketiga: Anak adalah mahluk pembelajar. Ada kekeliruan di tangan kita sebagai orangtua kalau anak tumbuh menjadi tidak suka belajar. Ibu seharusnya tidak mendidik anak menjadi bisa, tapi senang dengan proses belajar. 

• Fitrah keempat: 80% otak anak berkembang di usia 0- 8 tahun, dan masa emasnya terletak pada usia 0-3 tahun. Hal ini membutuhkan prioritas ibu. Oleh karena itu, ibu profesional harus punya pembagian waktu untuk anak dan dirinya. Selama usia anak 0-8 tahun, idealnya seorang ibu full dalam mendidik mereka, full memberikan konsentrasi , serta full memberikan hati kepada mereka. Tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah karena setengah-setengah tidak bisa mencapai keberhasilan. 

• Fitrah kelima: Stimulus anak sejak dini (usia 0- 12 tahun) akan menentukan karakter anak. 
Ibu profesional adalah ibu yang sungguh-sungguh menjadi ibu. Ia paham bagaimana cara menjadi ibu, istri tapi juga mampu mandiri secara finansial tanpa meninggalkan keluarga. 

Dalam Institut Ibu Profesional, ada tahapan-tahapan untuk menuju kesana. 
Tahap pertama: Bunda Sayang. Pada tahap ini ibu harus memahami ilmu-ilmu dasar bagaimana mendidik anak. Mulai dari komunikasi produktif, bagaimana memotivasi anak, mengajarkan kemandirian, baru kemudian mengajarkan mereka membaca dan menulis. Goalnya adalah membuat anak suka dengan belajar. 

Tahap kedua: Bunda Cekatan. Tahapan ini adalah bagaimana mendidik ibunya agar kualitasnya sebagai ibu, istri dan perempuan memiliki kerja yang cekatan. Misalnya tentang bagaimana mengelola keuangan, emergency first, safety riding, membuat rumah elok, dsb. 

Tahap ketiga: Bunda Produktif. Menjadi ibu tidak berhenti pada ranah domestik, tapi juga harus mampu menggali potensi yang ada dalam dirinya sehingga bermanfaat dan mandiri secara finansial. Misalnya dengan membuat jaringan produktif, komunitas pembelajar, komunitas industri, dsb.
Tahap keempat: Bunda Sholihah. Yaitu dengan menjadi inspirasi bagi ibu-ibu yang lain dengan cara membagikan ilmu yang dimiliki. Ruh ketika menyampaikan ilmu tersebut ada karena telah melalui tahapan-tahapan sebelumnya. 
Jadi piramida ibu profesional itu adalah: 
1. How to educate the children

2. How to manage life

3. How to be confidence as a mother, wife and woman

4. How to continous the development! 

Finalnya adalah meningkatkan noble attitude atau ahlak mulia anda sebagai ibu, istri, perempuan dan tentu saja keluarga anda karena bermanfaat bagi orang lain. 
Jadi ibu profesional adalah hasil dari “anak yang akan mendorong diri Anda” sehingga mampu merevitalisasi makna ibu. 
Melalui revitalisasi makna ini, Ibu akan dihargai sebagai seorang perempuan yang luar biasa. Ibu akan menjalankan tugas hidup dan misinya secara profesional dan tangguh!!!

Link materi: https://youtu.be/hmLVcXK658Y

ADAB SEBELUM ILMU
Disusun oleh : Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

🍃Review Nice Home Work #1
Apa kabar bunda dan calon bunda peserta Matrikulasi IIP Batch #3?
Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk
seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi
“Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu
caranya posting sampai dengan hebohnya dikejar deadline:). Insya Allah kehebohan
di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus
semangat sampai akhir program.

🍃Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta
untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan
ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu FOKUS dan PERCAYA DIRI. Jangan sampai saat
kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang
sama saat menapaki kuliah di universitas kehidupan, tapi mengaharapkan hasil yang
berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai “INSANITY”

⛅INSANITY : DOING THE SAME THING OVER AND OVER AGAIN,AND EXPECTING
DIFFERENT RESULT – Albert Einstein

☘Setelah kami cermati , ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya
karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih
mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting.

Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan
prioritas. Hal inilah yang menyebabkan hidup kita tidak fokus, semua ilmu ingin
dipelajari, dan berhenti pada sebuah “kegalauan” karena terkena “tsunami informasi”.
Yang lebih parah lagi adalah munculnya penyakit “FOMO” (Fear of Missing Out), yaitu
penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit ini juga membuat penderitanya
merasa ingin terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO
ini biasanya menimbulkan penyakit berikutnya yaitu”NOMOFOBIA”, rasa takut
berlebihan apabila kehilangan atau hidup tanpa telepon seluler pintar kita.

☘Matrikulasi IIP batch#3 ini akan mengajak para bunda untuk kembali sehat
menanggapi sebuah informasi online. Karena sebenarnya sebagai peserta kita hanya
perlu komitmen waktu 2-4 jam per minggu saja, yaitu saat diskusi materi dan
pembahasan review, setelah itu segera kerjakan NHW anda, posting dan selesai,
cepatlah beralih ke kegiatan offline lagi tanpa ponsel atau kembali ke kegiatan online
dimana kita fokus pada informasi seputar jurusan ilmu yang kita ambil. Hal tersebut
harus diniatkan sebagai investasi waktu dan ilmu dalam rangka menambah jam
terbang kita.

Katakan pada godaan ilmu/informasi yang lain yang tidak selaras dengan jurusan
yang kita ambil, dengan kalimat sakti ini :

*MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK*

Apa pentingnya menentukan jurusan ilmu dalam universitas kehidupan ini?

JURUSAN ILMU YANG KITA TENTUKAN DENGAN SEBUAH KESADARAN TINGGI DI
UNIVERSITAS KEHIDUPAN INI, AKAN MENDORONG KITA UNTUK MENEMUKAN
PERAN HIDUP DI MUKA BUMI INI.

☘Sebuah alasan kuat yang sudah kita tuliskan kepada pilihan ilmu tersebut, jadikanlah
sebagai bahan bakar semangat kita dalam menyelesaikan proses pembelajaran kita di
kehidupan ini.

Sedangkan strategi yang sudah kita susun untuk mencapai ilmu tersebut adalah
cara/kendaraan yang akan kita gunakan untuk mempermudah kita sampai pada
tujuan pencapaian hidup dengan ilmu tersebut.

Sejatinya,
SEMAKIN KITA GIAT MENUNTUT ILMU, SEMAKIN DEKAT KITA KEPADA SUMBER
DARI SEGALA SUMBER ILMU, YAITU “DIA” YANG MAHA MEMILIKI ILMU
Indikator orang yang menuntut ilmu dengan benar adalah terjadi perubahan dalam
dirinya menuju ke arah yang lebih baik.
☘Tetapi di Institut Ibu Profesional ini, kita bisa memulai perubahan justru sebelum
proses menuntut ilmu. Kita yang dulu sekedar menuntut ilmu, bahkan menggunakan
berbagai cara kurang tepat, maka sekarang berubah ke Adab menuntut ilmu yang baik
dan benar, agar keberkahan ilmu tersebut mewarnai perjalanan hidup kita.
MENUNTUT ILMU ADALAH PROSES KITA UNTUK MENINGKATKAN KEMULIAAN
HIDUP, MAKA CARILAH DENGAN CARA-CARA YANG MULIA

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber Bacaan :

Hasil Penelitian “the stress and wellbeing” secure Envoy, Kompas, Jakarta, 2015
Materi “ADAB MENUNTUT ILMU” program Matrikulasi IIP, batch #3, 2017
Hasil Nice Home Work #1, peserta program Matrikulasi IIP batch #3, 2017

By: Septi Peni Wulandani

Apa sebenarnya literasi media itu? Istilah literasi media mungkin belum begitu akrab di telinga kita. Masyarakat mungkin masih terheran dan kurang paham jika ditanya apa sebenarnya literasi media tersebut. Para ahli pun memiliki konsep yang beragam tentang pengertian literasi media, McCannon mengartikan literasi media sebagai kemampuan secara efektif dan secara efesien memahami dan menggunakan komunikasi massa (Strasburger & Wilson, 2002).

Ahli lain James W Potter (2005) mendefinisikan literasi media sebagai satu perangkat perspektif dimana kita secara aktif memberdayakan diri kita sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan yang kita terima dan bagaimana cara mengantisipasinya.

Salah satu definisi yang popular menyatakan bahwa literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan isi pesan media. Dari definisi itu dipahami bahwa fokus utamanya berkaitan dengan isi pesan media.

Untuk memahami definisi literasi media lebih mendalam sebaiknya dipahami pula bahwa terdapat tujuh elemen utama di dalamnya. Elemen utama di dalam literasi media adalah sebagai berikut:

1) Sebuah kesadaran akan dampak media terhadap individu dan masyarakat

2) Sebuah pemahaman akan proses komunikasi massa

3) Pengembangan strategi-strategi yang digunakan untuk menganalisis dan membahas pesan-pesan media

4) Sebuah kesadaran akan isi media sebagai ‘teks’ yang memberikan wawasan dan pengetahuan ke dalam budaya kontemporer manusia dan diri manusia sendiri

5) Peningkatan kesenangan, pemahaman dan apresiasi terhadap isi media. (Silverblatt, 1995)

Dulu jaman saya kuliah, susaaaaah banget unt dpt informasi, harus datang ke perpustakaan kota dan propinsi. Tapi sekarang di era digital anak2 dan kita kebanjiran informasi. Era broadcast semarak muncul dimana2 didasari satu hal baik yaitu ingin berbagi.

Nah bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tsb?

1. Tidak semua berita baik itu benar, prinsip ini yg harus dipegang pertama kali

2. Telurusi unsur kebenarannya sebelum kita menyebarkan hal baik tersebut

3. Pastikan dari sumber yang terpercaya (mulai dari buku, orang yg lsg mengalami, media kredibel)

4. Hindari kalimat copas dari grup sebelah, krn ini scr implisit “bukan saya yg bertanggung jawab atas kebenaran berita ini, saya hanya menyebar saja”

5. Kuasai materi skeptikal thinking dengan baik di era banjirnya informasi ini

6. Apabila kita ingin share hasil resume sebuah grup, mohon tuntas, jangan ada bagian yang dipotong, krn resume merupakan gambaran hasil dari sebuah diskusi. Dan jangan lupa ijin dengan penulis resume tersebut.

7. Apabila ingin mereview sebuah diskusi di group sebaiknya kita kemas dg pola pemikiran dan gaya bahasa kita, tdk hanya sekedar copas hasil diskusi. Jangan lupa cantumkan sumber dengan jelas : nama group dan nama pemateri/narasumber

Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni Wulandani/

Twitter : @septipw

FB : Septi peni wulandani

Email : septipeni@gmail.com

Seorang ibu yang semangat menuntut ilmu tentu saja segala rintangan akan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kalau kita memiliki anak kecil-kecil, yang tidak bisa ditinggal. Mari kita pelajari adabnya :

1. Tanyakan ke penyelenggara apakah kelas ini mengijinkan anak-anak masuk diruangan atau tidak? 
DON’T ASSUME
misal : “Ah, pasti boleh, ini kan komunitas Ibu-ibu/keluarga dan pasti punya anak kecil, jelas boleh lah”

ini ASSUME namanya. Harus di CLARIFY (klarifikasi) di awal. Tidak semua guru ridha kelasnya ada anak-anak dengan berbagai alasan kuat. masing-masing. 

2. Apabila tidak diijinkan anak-anak di dalam kelas, maka kita tidak boleh memaksakan diri. Memilih alternatif untuk tidak berangkat, kalau memang tidak ada kids corner atau saudara yang dititipi.

3. Apabila diijinkan, maka kita harus tahu diri, tidak melepas anak begitu saja, berharap ada orang lain yang mengawasi, sedangkan kita fokus belajar, ini namanya EGOIS. Dampingi anak kita terus menerus, apabila anda merasa sikap dan suara anak-anak mengganggu kelas, maka harus cepat tanggap, untuk menggendongnya keluar dari kelas, dan minta maaf. 
Meskipun tidak ada yang menegur, kita harus tahu diri, bahwa orang lain pasti akan merasa sangat terganggu. Jangan diam di tempat, hanya semata-mata kita tidak ingin ketinggalan sebuah ilmu. 

KEMULIAAN ANAK KITA DI MATA ORANG LAIN, JAUH LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN ILMU YANG KITA DAPATKAN.

Maka Jaga Kemuliaannya, dengan tidak sering-sering membawa ke forum orang dewasa yang perlu waktu lama. Karena sejatinya secara fitrah rentang konsentrasi anak hanya 1 menit x umurnya. 

Untuk itu andaikata kita punya anak usia 5 tahun, menghadiri majelis ilmu yang perlu waktu 30 menit, maka siapkan 6 amunisi permainan atau aktivitas yang harus dikerjakan anak-anak. Kalau ternyata anak cepat bosan dari rentang konsentrasinya, segera undur diri dan fokus ke anak kita.

Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,2014, hlm. 

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Untukmu Ananda

#Ntms dan juga buat si abang ketika nanti dede lahir: )

perjalanan seorang arsitek merancang peradaban islam

Tidurlah tidur anakku sayang.
Tidurlah tidur dalam pelukan.
Aku doakan kelak kau besar.
Jadi pejuang pembela Islam.

Tegarlah bagai batu karang.
Hidup ini adalah perjuangan.
Bersama hadapi tantangan.
Ridho Allah lah tujuan.

Cintai Allah dan RasuluLlah
Cintai Al Qur-an dan orang beriman.
Cintai akhirat, zuhudkan hidup di dunia.
Cinta cita-cita menjadi penghuni syurga.

View original post 444 more words

Bismillah…

cerita

 “Dan tarbiyah adalah kisah cinta, yang mengantar kita ke ufuk dakwah. Setelah itu, hidup tak pernah sama lagi.” (salim a fillah)

Udah janji sama si sohib buat nulis tentang ini 🙂 mudah2an dia suka.
nb : liat foto di atas. jangan suudzon! kami pergi ke Malang sama wali kok 😛

***
Si Mbak ini beda umur dengan saya sekitar 4 tahunan. Saya kenal beliau sebenarnya tidak sengaja. Beliau adalah teman dari teman saya, yang pada akhirnya saya menemukan blognya, lalu kemudian ketagihan baca blognya. Ibarat menemukan soulmate, beliau adalah teman idiologis yang sejalan tentang banyak hal. Akhirnya kami akrab, dalam beberapa acara kami juga sering bertemu. Beliau- sahabat ideologis yang baru bertemu tapi seperti teman lama.

Mbak ini, dalam blognya.. (maapin gue ya Mbak.. kan sekarang udah happy ending :P) seringkali (kadang deng, lebih sering bahas tentang liqo, ngehehehe) bahas tentang pernikahan. Suudzon saya adalah, mungkin si mbak ingin menikah tapi belum menemukan orangnya. Sampai akhirnya dalam kegiatan kami ke Malang bulan Oktober tahun lalu, di sepanjang jalan kami banyak ngobrol (secara akhowatnya cuma berdua, week) di kereta menuju Malang, termasuk tentang urusan ‘P’ itu. Sampai sekarang masih terkesan sama perjalanan kami naik kereta ekonomi dari Jakarta ke Malang.. sweet memory banget..

“Mbak, hem.. emangnya ga mau nikah ya?”, tanya saya hati-hatii sekali.
“Ya pasti mau lah.. siapa yang ga mau?”, jawab si Mbak pura-pura sewot.
Karena gesture si mbak nyantai, akhirnya saya tanya lebih berani, “Lah terus kenapa?”.
Ngukkk… nguuukk… nguuukk.. jeges jeges jeges…
Suara kereta api masuk ke bawah jembatan. Haduuh.. jawaban si mbak jadi kabur. Saya ingin bertanya lagi, tapi merasa tidak enak. Heu heu.
“Emang lo mau orang kek mana, Mbak?”, tanya saya lagi.
“Ya.. gue sih sebenernya ga neko-neko.. blablablabla..”, jawabnya.
Ada tanda tanya besar dalam kepala saya. Hem, kriteria si mbak emang gak neko-neko kok, lah terus kok susah dapetnya? (hohoho.. maapin gue lagi ye Mbaaak.. kikiki).

Terus terang saya peduli sama si mbak. Tanpa dia tau, saya tanya-tanya ke beberapa teman (baca : bapak-bapak muda yang satu amanah sama kami) kalau-kalau ada yang cocok sama si mbak. Bapak-bapak itu pun berkata, “Ya kali.. Linda.. masa’ kami ndak peduli sama dia..? ya kami juga udah lama nyari-nyariin juga buat dia.. tapi kami belum dapat yang pas. Akhowat bagus nih.. susah cariinnya..”. Dalam hati saya terharuu banget. Ternyata, Bapak-bapak itu diam-diam juga perhatian sama kami bocah jundi ini. Tidak melulu soal amanah, tapi semua dipikirkan bahkan tentang dengan siapa si bocah menikah? Ah, terharuu.. begitulah ukhuwah ya. Tidak banyak berkata, tapi ingat akan hajat saudaranya. Terharuu..

Termasuk juga saat saya permisi kepada si mbak,
“Mbak.. hem.. mbak percaya gue sayang mbak kan? gue mohon jangan tersingguung.. mohon.. mau nggak titipkan biodata ke murobbiyah gue? ya ini mah ikhtiar aja, belum tentu jalannya dari sini. Tapi kita sempurnakan ikhtiar aja.. kali-kali dapat orang Bandung, kan gue ada temen satu amanah.. wkwkwk.”.
Alhamdulillah si mbak positif thinking aja, “Okee.. gue kirim yaa. Nanti baca aja dulu sama Linda..”.
“Heu…. ga akan gue bacaa.. itu aurat lo.. cukup gue forward ke murobbiyah gue.. xixixi..”, jawab saya saat itu.
Murobbiyah saya juga alhamdulillah mau bantu. Saya bilang di awal, “Teman saya ini akhowat bagus, Bu.. titip ya..” (apa pulak itu istilah ‘Akhowat Bagus’? hahaha). Terakhir kali ingat bulan apa beliau bilang mudah-mudahan jadi. Tapi tidak ada kabar lagi, yang mungkin saya simpulkan mungkin tidak jadi.

Si mbak ini sayaang banget sama amanahnya. Sayang juga sama binaan-binaannya. Terus berda’wah.. terus beramanah.. terus membina.. subhanallaah.. beneran ini akhowat bagus.. Meski dari status-status FB nya yang (kadang) agak kayak galau, saya percaya bahwa beliau senantiasa berusaha berhusnuzon kepada jalan Allah.. jatuh bangun merangkak.. tarbiyah ini membuat kita, seorang manusia yang lemah ini.. yang juga punya kelemahan sama seperti manusia-manusia lainnya.. untuk tidak menyerah pada kelemahan diri.

“Dan tarbiyah adalah kisah cinta, yang mengantar kita ke ufuk dakwah. Setelah itu, hidup tak pernah sama lagi.” (salim a fillah)

Dalam kondisi kita punya kekurangan, tarbiyah adalah pendewasa. Dan kita akan hidup dalam pikiran bahwa hidup kita bukan untuk diri kita sendiri, jadi tetaplah bergerak..walau berat..
meski risau apapun yang ada di dalam benak kita, berusaha percaya bahwa Allah maha baik, Allah menyaksikan amal kita dari arasy dan menyimpan sekeranjang besar kebahagiaan untuk hamba yang Ia sayangi sebagai kejutan di hari yang sudah dituliskan oleh tinta-tinta yang sudah kering, jutaan milyaran (entah) tahun yang lalu. Saat hidup bukan untuk diri sendiri, percaya bahwa kita akan lebih kuat jauh dari yang kita kira..
Begitulah pesan yang saya ambil dari si mbak.. 🙂

Lalu tulisan ini sebenarnya janji ditulis tanggal 4 Mei yang lalu.. tapi ya sudahlah.. wkwkw
to mbak (sebut saja namanya Mawar).. terima kasiihh atas pelajaran berharga dari sedikit kisah lo yang gue tau 🙂 terharu (air mata jatoh atu atu.. xixi.. lebay) atas pernikahan lo. Inshaallah lo orang baik, si dia inshaallah baik juga. Uhibukki fillaah.. sekeranjang doa buat lo.. semoga semua cita-cita da’wah yang lo ceritain di kereta menuju Malang kesampean.. (dan gue masih ingat pecel Madiun harga Rp 4.500 saat gue mau sahur) wkwkw.
Love yoouuuu bangeet..
Maap kalau ada salah2 kate yeee.. 🙂

*gue nulis sambil denger Yiruma-Kiss The Rain yang lo suka
wkwkw

***
Hey, sobat ideologis…aku abadikan tulisan mu! 🙂

Sebagai pengingat betapa panjaaaaangnya perjalanan ini..betapa banyaknya mimpi yang ditorehkan…sebelum akhirnya aye dipertemukan dengan si dia yang namanya tertulis di lauhul mahfudz.

Jazakillah, Linda ^^

Bismillah..
Edisi Menikah (lagi), Spesial untuk Teteh Tercinta 🙂

Untuk teteh yang hari ini akhirnya menggenapkan separuh dien-nya

Yang kabar pernikahannya paling ditunggu-tunggu
Yang saat diminta foto bersama adik-adik ‘binaan’ dari masa ke masa nya berjajar panjang serombongan gadis yang tak akan lupa jasamu

Teteh yang mengajarkan secara langsung bahwa perkara menikah memang soal aqidah
Tidak ada satu pun orang yang bisa memaksakan ‘kapan’nya, dengan ‘siapa’nya
Hanya satu yang bisa benar-benar diusahakan
Itu adalah ‘cara’ kita mencapai ke sana

Teteh yang pastinya telah bersabar dalam ikhtiar panjang
Yang sudah rindu untuk menjadi sosok ibu

Ternyata memang saat Allah berkata ya atas kesiapan kita
Semua akan melenggang begitu cepatnya
Perkenalan yang kurang dari satu jam?
Orang bilang itu ambil resiko, terburu-buru
Tapi dalam bahasa kita itu yakin akan takdir-Nya
Karena sejak awal sudah yakin
Jika jama’ah yang menawarkan, banyak pihak yang akan menjamin

Ternyata juga tidak sesederhana itu ya perkara ini?
Tapi juga tidak serumit yang dipikirkan banyak orang

Karena menikah bukan soal dua individu
Tapi menikah adalah penyatuan dua basis masyarakat
Pernikahan antar dua keluarga besar yang kadang berbeda budaya
Penyatuan dua kultur unik untuk mencapai visi bersama
Makanya ada yang berkata
Menikah adalah agenda peradaban
Ternyata pun tidak sekedar penyatuan dua keluarga bukan?

Ada agenda dakwah di dalamnya
Ada agenda turut mengokohkan bangunan ummat

Dan itu dimulai bahkan sejak persiapan
hingga jalannya acara akad dan walimatul ursy
hingga resmi menjadi sebuah rumah tangga baru
hingga menjadi sebuah bagian terkecil dari masyarakat
hingga menghasilkan generasi-generasi baru
hingga akhir hayat

Kesemuanya sudah semestinya bagian dari agenda dakwah
Atau agenda dakwah adalah bagian darinya

Dan itu semua telah saya pelajari darimu, teh..

Jazakillah khairan katsira, teh Qisthina Aulia..
Atas kesempatan belajarnya sekali lagi 🙂
Atas izinnya untuk jadi tim sukses penggenapan separuh dien-mu

..always remember your words
‘Teteh berkali kali nyadar, klo perkara nikah memang perkara aqidah..’

‘Insya Allah lah, nis..perkara jodoh mah udh ada yg ngatur. Serahin aja sm Allah..yg bs kita lakukan adalah menjaga dn memperbaiki diri terus menerus. Semoga Allah pertemukan kita dgn dia yg sudah Allah tuliskan di atas lauhul mahfud dalam kondisi ketaatan.’

Ya, yang harus jadi penekanan adalah dalam kondisi ketaatan..
Dan dirimu telah mencontohkannya 🙂

Barakallahu lakuma, wa barakallahu ‘alaikuma, wa jama’a bainakuma fii khair..
Untuk teh Qisthina Aulia dan Bang La OdNazaruddin 😀

-4 Mei 2014-

***
Dibikinin tulisan sama adikku Annisa Sophia. Aduh..jadi srot..srot-an tengah malam T.T
Saya abadikan di blog ya. Bukan karena bangga tapi sebagai pengingat. Adikku ini memang selalu jago nyindir tetehnya lewat tulisan.

Jazakillah, Nisa 🙂

Bismillah..

Lucu

“Jika kau tanya kenapa aku memilihmu? Itu karena Allah memberiku cinta yang ditujukan kepadamu..”

(Asma Nadia)

Dia tidak hadir dengan kesempurnaan. Tidak datang sesuai dengan doa yang aku lantunkan setiap sujud. Dia juga tidak hadir dengan kelengkapan pinta yang aku khayalkan sebelum akad. Tapi cinta itu ternyata tumbuh, dari keridhoan atas apa yang Allah pilihkan untuk Ku.

Dia yang tak pernah merengut sedikitpun ketika aktifitas ​dakwah dan tarbiyah ku​ padat di akhir pekan. Dia yang ​tak keberatan untuk menyiapkan makan, mencuci piring dan baju sendiri ketika aku sibuk dengan hal lain. ​Dia yang tak romantis, tidak bakat menggombal atau mengirimkan sms manis tapi sering membuatku tersenyum sayang ketika menyimak rencana panjangnya untuk keluarga kami kelak.

Dia memang tidak sempurna, tapi dia menjawab apa yang aku butuhkan. Benarlah janji Allah, bahwa tidak akan kecewa mereka yang menjatuhkan pilihan atas barisan istikharah serta musyawarah.

​Dan u​ntuk ketidaksempurnaan​nya​, biarlah aku yang melengkapinya sebagai ladang pahala​ :)​​

***

Teruntuk suami ku, thanks Allah..i found you! ❤ ❤ ❤ (040514)

Bismillah..
Potongan tulisan dari Salim A Fillah:

Yang dialami para peyakin sejati agaknya adalah sebuah keterhijaban akan masa depan. Mereka tak tahu apa sesudah itu. Yang mereka tahu saat ini bahwa ada perintah Ilahi untuk begini. Dan iman mereka selalu mengiang-ngiangkan satu kaidah suci, “Jika ini perintah Ilahi, Dia takkan pernah menyia-nyiakan iman dan amal kami.” Lalu mereka bertindak. Mereka padukan tekad untuk taat dengan rasa hati yang kadang masih berat. Mereka satukan keberanian melangkah dengan gelora jiwa yang bertanya-tanya.

Perpaduan itu membuat mereka memejamkan mata. Ya, memejamkan mata.

Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi. Mereka harus bersikap di tengah keterhijaban akan masa depan. Cahaya itu belum datang, atau justru terlalu menyilaukan. Tapi mereka harus mengerjakan perintahNya.

Para pengemban da’wah, jika ada perintahNya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan.

Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada tanganNya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan padaNya jua kita akan pulang.

Cerita Suwarti

Berbagi Cerita Melalui Pena

METAMORPHOSIS

Kadang-kadang terlepas pandang

Febrianti Almeera

"Never Ending Learn to be a Great Muslimah"

TAFSIR FI ZILALIL QURAN

COMPLETE English, Arabic, Indonesian, Malay Languange

The Science of Mom

The Heart and Science of Parenting

LDK FITK UIN SYAHID JAKARTA

Laa Tahzan Innalahama'ana

The Research Whisperer

Just like the Thesis Whisperer - but with more money

The Thesis Whisperer

Just like the horse whisperer - but with more pages

Get your dream ~

Menulis untuk Menyebarkan Kebaikan

Alif Kurniawan's Blog

ikatlah ilmu dengan tulisan (Imam Syafi'i)

Menulis Itu Berbagi

Si Pandai itu besar sekalipun ia kecil, sedangkan si Bodoh itu kecil sekalipun ia besar

Catatan Pinggir

Bahasa | Rasa | Makna

Story of a Photographer

Wedding and Travel Photographer

Penghujungmalam's Blog

Just another WordPress.com site

Pohon Kenari

menyisir jalan memungut kenangan

khuzaifah hanum

share to others

Just another words..

Teguh adalah nafas Rijalul Haq

Catatan Seorang yang Ingin Terus Belajar..

Terus Belajar, Belajar Terus, dan Belajar (minal mahdi ilal lahdi...)

uswahisme

cuma apa yang saya pahami.